Sabtu, 01 Juni 2013

Komunikasi Bisnis (surat undangan)



Tricell Pharmeceutical Co.
Wijaya Kusuma 1 main street,
Bekasi, Tambun Selatan  17510

June 1, 2013

Mr. Albert Wesker
President
Umbrella Corp.
44 Flying Cat Main Street
Jakarta, Indonesia

Dear Mr Albert

My name is  Excella Gionne and I am writing on behalf of as a CEO in Tricell Co.

As a CEO in Tricell Co, our company build the new facilities in Purwakarta, West Java . You are invited to attend a presentation and grand opening for our facilities.

At the presentation, there will be several Scientist receiving awards which will recognize them within the community from the President and Mayor. Refreshments will also be available at the presentation.

As one of the prominent figures in the Pharmaceutical business, we would be honored by your attendance in there. Our special presentation and grand opening will be held at our new facilities on June 15th. Please reply by Saturday the 8th of  June to confirm your attendance to the function.

We look forward to seeing you there,

Sincerely,

Ms. Excella Gionne

Komunikasi Bisnis (surat Memo)

Memo

To       :    Jill Valentine

From   :    Chris Redfield

                 Leader of National Security Advisior

Date     :   31 May 2013

Subject :  Gathering and Prepare guard team for The President family


           Please attend the meeting at Pasific Place on Saturday, June 1st, 2013 at 10 a.m. Prepare guardteam to protect president family. I hope your team join us, cause we still out of numbered.

Minggu, 31 Maret 2013

Kepariwisataan 2 # (Waduk Jatiluhur)



Perjalalanan jauh menempuh kilioan meter menjadi salah satu kegemaran saya, tidak menggunakan mobil, angkutan umum atau jalur udara, melainkan menggunakan motor, atau yang bisa saya sebut Touring. Kendaraan pertama dengan motor berkapasitas 125cc, setelah 2 tahun ayah mebelikan yang  baru walaupun hanya motor bekas. Namun,  kegemaran itu harus terhenti ketika kendaraan yang selama kurang-lebih 5 tahun saya kendarai itu tidak mampu berjalan jauh, jangankan untuk perjalanan jauh menempuh perjalanan menuju kampus saja sudah tidak bisa ber akselerasi dengan bagus. Daerah yang sudah saya kunjungi kebetulan hanya pulau jawa saja, dan mungkin karena faktor umur dari para teman-teman Touring juga, mereka terdiri dari bapak-bapak  yang sudah berumur, yah jadi memaklumi saja kalau kegiatan Touring kami tidak menempuh perjalanan yang sangat jauh bahkan sampai keluar pulau.
Tempat pertama kali yang saya kunjungi masih ada di daerah Jawa Barat tepatnya di wisata waduk Jatiluhur Purwakarta,  waktu itu kuda besi saya hanya mesin berkapasitas 125cc, karena masih sangat awam dan kelihatan ragu-ragu saya memberanikan diri saja, tanpa surat lengkap apapun hanya STNK itu juga hanya fotokopiannya saja dan kebetulan sekali motor yang saya kendarai pada waktu itu adalah milik kantor ayah dan ber plat merah, jadi ayah bilang tenang saja tidak akan yang berani menilangmu, jadi merasa tenang dengan penjelasan itu.
Kembali ke Touring, perjalanan yang kami tempuh untuk ke sana kurang lebih 3 jam dan jumlah peserta 10 motor, karena lokasinya cukup jauh dan terhalang macet, faktor berhenti dan istirahat juga menjadi masalah lamanya kami sampai kesana, ramai, cukup padat. Akses jalur yang kami lalui cukup menantang karena Jatiluhur sendiri terletak di balik dan berada di tengah-tengah gunung, jalan menanjak, menikung, turunan, tikungan tajam dan dengan kecepatan tinggi. Memasuki pintu masuk kawasan Grama Tirta Jatiluhur di kenakan biaya Rp 7500.00 saja, di sana banyak sekali fasilitas yang cukup mengasyikan, seperti Waterboom, penginapan, saung dan restoran. Sesampainya saya dan tim disana sekaligus memecah lelah, banyak sekali saung dan tempat makan disana kami sampai bingung, aroma ikan bakar tercuim sedap, kami berhenti di sebuah saung menepi, tidak lupa es kelapa yang menemani kami. Untuk sebuah ikan bakar, nasi, 1 es kelapa muda, serta dengan lawuh lainnya kami membayar tidak lebih dari Rp 150.000.00.
Setelah kenyang kami mencari mushola untuk ibadah Dzuhur. Merasa bosan tidak melakukan apa-apa tim lalu menyewa kapal boat dan kebetulan sekali  Saudara saya memiliki tambak ikan yang berada di tengah waduk, untuk naik kapal boat di kenakan biaya Rp 150.000.00 dan bisa di tunggu hingga kami kembali ke darat. Santai di saung yang berada di tengah waduk terasa segar dan sejuk, kopi dan cemilan kecil menjadi teman santai. Sore menjelang kami bergegas kembali ke darat, tidak lupa saudara saya memberikan masing-masing dari tim 5kilo ikan hidup untuk dibawa pulang kerumah masing-masing. Sangat mengasyikan pergi ke alam dan menyatu sejenak dengan mereka.

Kepariwisataan 2 # (Kuningan)



Next Touring Journey after Jatiluhur is Kuningan, it was the second time, so the teritory still in west java. Everythings changed up, the member started to subside cause the age, they getting old to trip far away from home and including my motorcycle, my father gave me a new one, 125cc into 225cc, cause my father moves his job to another office, but still one company, so he give it back to old office. 5 years until now i’m still ride on it, but now i’ve done to trip far away, that things can’t full performs on the street anymore. Even to campus only 30km-40km. Wish i have much money and cash to fix it and going back to my activity.
December 2010, a few months after i enrolled as a collage students in Gunadarma university, team countinues the journey to Kuningan-West Java. The journey started at 08.00am with only 5 motorcycle and 1 car, like i said the members getting old and tired to trip far away, my father join with team, but he used the car, and the other man join with my father in the car.  My father leave first, cause the way is different, my father through the high way and we through the Pantura. In Subang, West – Java some accident happened, it was traffic lamp and only 4 seconds green lamp left, team seems to hurry with that and increased the acceleration and when the lamp turn into red team slaken the brake suddenly, then i crash one of them and throw my body down into the solid ground, my leg hit the iron, so hurt, little gall and swollen up. After that team pull over near the road, check my leg for while, it was getting bigger with red-blue. My father so worried about that, he said don’t tell about this to mom okay, cause if my mom knew about this she would be mad.
Team arrived at waduk Darma, Kuningan. As you can see the picture on the right, It was afternoon, so we can feel how cold the weather is and so many people enjoyed rest of the day in there, chit-chat with friends, kids playing kite, mostly teenegers hang out with they own couples. One of our team bring some camera photo, in order to have documentation about what we doing as long on journey. We taking photo too, have fun together full with enjoyment, drink a coffee. Time goes by, team ready to continue the trip and surely we don’t forget to turn on the lamp cause it was getting night. 
The second destinations is some place for therapy, not usually therapy but it good, they used a fish for it and we only found that in Cigugur, Kuningan, the accomodations or the ticket is about Rp.15.000.00. We can sit down near of the pool put our feet or body into the water and let the fish ate the dirt or pores death which is patch in our body, and i’m just put my feet cause i don’t bring some shirt anymore. After we had fun with the therapy we’re continue to prays. At 06.30 P.m team come back to trip to the last destination. Accidentaly theres some home belongs one of our team member. So we spent the night there. As the youngest member of the team i’ve always listen to them, what are they talking about, and they always share about everythings they know. Next day we prepared everything and go back to bekasi, more carefull, more attention to road, keep consentration full.

Senin, 03 Desember 2012

Softskill: Kepariwisataan




Kepariwisataan Indonesia: Green Canyon 

Berpariwisata menjadi jalan alternatif  untuk melepas penat kesibukan sehari-hari. Pada era globalisasi ini banyak sekali sarana yang dibangun untuk tempat rekreasi maupun pariwisata, seperti wahana bermain in door maupun out door. Namun, jika kita ingin lebih menyatu dengan alam bebas kita bisa pergi berpariwisata ke tempat yang benar-benar hijau, dimana kita bebas dan menyatu dengan keindahan alam raya. Salah satu tempat pariwisata keluarga yang Hijau dan alami adalah Green Canyon atau warga sekitar menyebutnya dengan sebutan cukang taneuh yang berarti jembatan tanah. Berjarak 130 km dari kota Ciamis sedangkan dari Pangandaran sendiri hanya 30 km saja. Sebelum mencapai lokasi Green Canyon pergilah ke terminal angkutan umum yaitu terminal pangandaran dan menuju terminal desa Cijulang jika ingin berangkat dengan angkutan umum. Green Canyon  merupakan aliran sungai Cijulang yang berada di tengah- tengah bukit bebatuan dan tumbuhan hijau. Sangat indah jika kita bisa menyaksikan langsung salah satu keindahan alam Ciptaan Tuhan. Melihat dari segi manajemen Green canyon mempunyai cukup strategi untuk menarik wisatawan domestik maupun asing. Survey membuktikan pengalam informasi tentang keberadaan Green Canyon mereka dapat dari Kerabat/keluarga. 70% dari kerabat dan 30% mereka dapat dari website. Dari segi wisatawan yang datang memang cukup bertambah dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwasata Kabupaten Ciamis pada tahun 2011  wisatawan yang datang kurang lebih 62.293.
Untuk tahun ini belum bisa diperkirakan karena cuaca yang sangat buruk mempengaruhi sungai Cijulang. Hujan yang tak henti turun membuat Sungai Cijulang meluap dan banjir hingga ke pemukiman warga. Untuk sementara Green Canyon ditutup hingga volume air kembali normal dan cuaca kembali stabil. Berdasarkan survey untuk perawatan pengelola harus membersihkan sampah 49,0% sampah. Hal ini menjadi tugas pengelola wisata harus bekerja sama dengan warga sekitar dan pemerintah agar Green Canyon tetap terjaga kebersihannya. Selain itu Green Canyon juga melestarikan sebagian flora dan fauna, 60% pengunjung menyatakan bahwa pelestarian flora dan fauna cukup baik. Untuk kebersihan lingkungan di Green Canyon para pengunjung juga menilai cukup baik dan bersih. Pengunjung menilai aspek fasilitas umum seperti rumah ibadah, restaurant, toilet dan yang lain cukup nyaman dan baik. Namun sayangnya untuk tempat penginapan mereka mengatakan sangat kurang lengkap. Jadi pengunjung  harus kembali ke Pangandaran yang lebih banyak menyediakan tempat penginapan.
Pemerintah seharusnya bisa lebih memberikan fasilitas dan membangun sarana lebih bagi pengunjung. Kurangnya perhatian pemerintah dalam memperhatikan lingkungan sekitar tempat wisata akan mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang karena melihat lingkungan yang kurang nyaman. Peran pemerintah juga sangat di butuhkan untuk mensosialisasikan tempat wisata tersebut agar lebih bisa di kenal khalayak banyak. Pandangan pemerintah tentang tempat-tempat wisata harus lebih bisa memberikan yang terbaik agar wisatawan domestik dan luar lebih tertarik lagi jika mereka kembali berkunjung ke tempat wisata tersebut. Khusunya untuk wisatawan asing mereka akan menambah devisa negara. Wisata pantai, alam dan kuliner menjadi tujuan utama mereka datang ke negara kita, entah untuk mempelajari budaya sekitar atau hanya ingin sekedar melepas penat di negara asal mereka. Kekayaan alam dan Budaya yang kita miliki menjadi kelebihan tersendiri untuk dijadikan tempat pariwisata yang sangat unik. Suatu kebanggaan memiliki negara yang kaya akan alam dan budaya.

Minggu, 02 Desember 2012

Jurnalistik : Features



Touring to Wanayasa
Berbaris teratur di Jalanan dan konsentrasi dalam kecepatan tinggi adalah suatu yang harus dilakukan oleh para pengendara motor jarak jauh yang biasa kami sebut touring, definisi touring sendiri menurut saya adalah perjalanan jarak jauh yang dilakukan dengan formasi berbaris dan teratur tentunya dipimpin oleh kapten dan pada bagian belakang terdapat sweeper kami biasa menyebutnya pembersih jalan, kapten dan sweeper ini adalah orang yang sudah mengetahui letak lokasi yang akan kita tujui, jika salah satu peserta ada yang hilang atau salah jalan maka tugas sweeper yang akan mencari mereka sedangkan sisa peserta akan berhenti sejenak sampai peserta yang hilang itu kembali. Mesin, tekanan ban, lampu depan dan belakang, jaket hujan adalah keperluan yang harus disiapkan sebelum menuju tempat tujuan dan dari semua itu yang paling pokok bagi saya adalah kondisi tubuh karena kalau tidak fit atau tidak sehat akan mempengaruhi saat perjalanan dan untuk yang terakhir adalah berdo’a agar kami selalu diberikan keselamatan dalam perjalanan.
 kami mulai berkumpul pada salah satu rumah peserta pada pukul 12.00 siang, tentunya dengan persiapan yang sudah matang, kali ini kami melakukan perjalanan yang cukup lumayan jauh yaitu sumber mata air di daerah Wanayasa, Purwakarta. Kebetulan sekali tempat yang akan kami kunjungi adalah milik Saudara saya.  Anggota touring kali ini berjumlah 12 orang diantara 8 yang lain kami berempat yang masih remaja, saya, Wawan, Anggi dan Aji yang lain adalah para  orang tua, tapi entah mengapa mereka masih kuat untuk melakukan perjalanan jauh.
Pak Mamat adalah kapten Touring kami, setiap kami melakukan Touring beliau lah yang menjadi kapten. “ berkumpul, mari kawan sebelum kita pergi kita berdo’a agar selalu diberikan keselamatan, berdo’a tenang, mulai,............... selasai ” tekan Pak Mamat. Mesin yang menyala karena dipanaskan mulai ditunggangi, bendera tanda juga sudah dipasang pada masing-masih peserta, “Siap gak??” tanya Anggi, “Siap lah gw mah” jawab Wawan, “ lw motor 250CC dan paling kencang, mending di belakang aje nggi..” sanggah Aji, saya hanya bisa tertawa melihat celotehan kecil mereka, kami memulai perjalanan dari arah Cibitung menuju jalan Cikampek dengan jalur pantura. Pertama kami melewati pasar dan terminal untuk daerah Cikarang, kami semua sedikit berbencar agar bisa mencari jalan masing-masing keluar kerumunan pasar. Mengambil jalan panjang, melawati perbatasan, kami sampai di Kota Karawang yang dimana selalu saja ada polisi yang merazia, benar saja, polisi memang sudah menuggu di sana, untung saja lampu motor saya menyala, tapi salah satu anggota kami terkena razia karena lampunya dalam keadaan mati, beruntungnya hanya peringatan saja jadi diperbolehkan pergi, kami pun melanjutkan perjalanan setelah 1 jam 30 menit perjalanan akhirnya kami tiba di kota Cikampek sekaligus menepi istirahat sambil meminum es kelapa muda, 30 menit beristirahat kami melanjutkan kembali perjalanan, melewati daerah Cikopo yang penuh dengan pohon karet dan tempat istirahat lainnya. 1 pertanyaan, mengapa kami sangat cepat hanya 90 menit sudah tiba di Cikampek ? karena kami mengendarai motor dengan kecepatan 100km, itu lah yang membuat kami cepat sampai tujuan.
Memasuki kota Purwakarta, kami mulai agak berpencar karena sedikit ramai keadaan jalan di sana, kecepatan dikurangi sambil kami melihat pusat keramaian di Kota Purwakarta yaitu Situ Buleud. Situ Buleud sendiri adalah sebuah Danau yang berada di Pusat Kota Purwakarta, menurut sejarah pembangunan Situ terjadi pada tahun 1830 oleh pendiri Kota Purwakarta yaitu R.A Suriawinata.

Kami sampai pada tujuan pertama yaitu rumah Saudara saya, rombongan berhenti sejenak dan mempersiapkan makanan yang akan dibawa ke tempat tujuan sebenarnya yaitu mata air Wanayasa. kami pun kembali mengendarai si kuda besi, karena tempatnya berada di kaki gunung kami pun harus berhati-hati banyak tikungan dan tanjakan, dan benar saja salah satu anggota yang berada di depan saya terjatuh ketika melewati tikungan tajam, dia terpental jauh dari motor untung saja tidak dalam kecepatan tinggi, saya bergegas turun dan menolongnya, kaki kanannya memar dan sepertinya terkilir, kami menunggu anggota lainnya dan melanjutkan perjalanan. setelah 1 jam perjalan kami tempuh, kami tiba di mata air namun harus turun kembali dengan kemiringan 80 derajat.  Mematikan mesin dan turun anggota pun agak terkejut, karena akan bermalam di tengah  kebun dan cukup terbuka, disana terdapat sebuah pendopo kecil, memang iya, setiap saya kesana hanya di siang hari saja dan saya tidak pernah membayangkan bagaimana jadinya bermalam di saung seperti itu, gelap, hanya memakai lampu petromak. Tapi inilah yang disebut petualang sejati. Karena cuaca dingin nyamuk pun tidak ada yang berani menggigit, bahkan salah satu anggota ada yang mandi pada mata air untuk menghangatkan tubuh. Untuk kegiatan yang kami lakukan, kami membakar ikan yang sudah dipersiapkan. larut malam tiba suasana semakin senyap ikan pun sudah matang dan hanya Anggi yang sudah tertidur pulas dari setelah sampai dia memang sudah tertidur. Ada satu kejadian dan cukup membuat kami semua kaget, keadaan gelap membuat Wawan tidak melihat bahwa ada tangga, dia terjatuh dengan tangan yang sedang membawa piring, seketika itu juga tangannya robek terkena pecahan piring, darah tidak berhenti. akhirnya saya yang masih terjaga dan penjaga pendopo harus membawa Wawan ke klinik terdekat beruntungnya masih buka. Lelah dengan semua saya mulai mengantuk, kami semua beristihat dan tidur.
Kegiatan kembali dilakukan pukul 05.00 pagi, ada yang melakukan sholat shubuh, ada yang mandi, kami semua mulai bekerja kembali menyiapkan sarapan pagi walaupun dengan mie rebus tetap saja kalau bersama terasa sangat nikmat, kopi pun menjadi teman kami kala mentari mulai terbit, karena sebagian dari kami belum mandi, kami ingin menceburkan diri ke dalam kolam air, memang sengaja saudara saya membuat tempat pemandian keluarga, airnya bersih, jernih tidak mengandung kaporit, tetapi saat saya ingin menceburkan diri ada ular kecil di dalam kolam, otomatis saya tidak berani, akhirnya ular itu kami tangkap dan di buang jauh-jauh, kami bebas berendam. Kebetulan juga anggota ada yang membawa kamera untuk dokumentasi, kami bersantai ria, berfoto bersama. Pukul 10.00 kami siap untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Bekasi.
Mesin sudah panas, kami berpamitan pulang kepada penjaga pendopo, mulai naik kembali jalan terjal, penuh batu, jalan yang kami tempuh bercampur dengan batu karena daerah itu adalah  daerah pengerajin batu alam, menanjak kembali, tikungan dihadapi kami pun keluar dari wanayasa. melanjutkan perjalanan pulang kecepatan dikurangi karena semua anggota masih kelihatan lelah. 1 jam kami berhenti sebentar di Daerah Cikopo, makan masakan ciri khas purwakarta yaitu sate maranggih, sangat berbeda dari sate yang lain. Kenyang mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan. kami sampai di Karawang, karena penasaran Anggi ingin mencoba berapa kecepatan maksimum motornya dan waktu yang diambil, benar saja dia mencoba motornya yang berkapasitas 250CC itu, kebetulan juga jalan yang kami tempuh adalah jalan baru di Karawang, kami membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai ujung jalan, sedangkan Anggi hanya butuh 15 menit dan ketika kami sampai dia hanya berhenti di warung terdekat sambil merokok santai. Akhirnya perjalanan berakhir setelah menempuh perjalan kurang lebih 4 jam, kembali ke rumah masing-masing, beristirahat.
Feature Perjalanan/petualangan